PPID

Kabupaten Dharmasraya

Potensi Agro-Wisata Kampung “Duku” Dharmasraya

gambar
Potensi Agro-Wisata Kampung “Duku” Dharmasraya

Dharmasraya,- Nagari Koto Padang dan Koto Baru kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat sangat layak menyandang predikat sebagai Nagari (desa) Duku. Karena hampir di setiap rumah penduduk terdapat beberapa batang duku. Buah duku merupakan salah satu buah yang menjadi favorit masyarakat, sering juga disebut lansat oleh masyarakat Sumatera Barat, khususnya Dharmasraya.

Masih ingat dengan salah satu judul lagu Nasional “Sijunjung Lanseknyo Manieh”.  Lagu ini terinspirasi dengan adanya produksi buah lansek di Nagari Koto Padang dan nagari Koto Baru, yang dahulunya termasuk wilayah administrasi kabupaten Swahluntoi/Sijunjung. Kini kedua daerah itu berada dalam wilayah administrasi kabupaten Dharmasraya. Namun trade mark masih menggunakan lansek Sijunjung.

“di nagari Koto Padang, hampir di setiap rumah warga ada pohon duku. Tradisi ini sudah berlangsung sejak dulu kala” ungkap Fedro Cherly (23) di Koto padang, Kamis (13/04). Menurut pemuda lulusan Fakultas Ekonomi UNAND Padang 2015 ini, sebenarnya kami generasi muda ingin menjadikan nagari Koto Padang sebagai daerah wisata, Kampung Duku. Namun kami ragu karena duku tidak berbuah setiap saat, hanya bersifat musiman. Bagaimana kalau wisatawan datang kesini, sementara duku tidak berbuah? Katanya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Dharmasraya, Sutan Hendri, ST, M.Si melalui Kepala Bidang Kebudayaan, Elfi Jasri, S.Pd.,M.Si mengungkapkan konsep pengembangan wisata agro Kabupaten Dharmasraya sudah mulai kita bahas dengan pihak pengembang. Lebih lanjut, Elfi menjelaskan, saat ini kita sedang menggarap agro-wisata jeruk manis di Nagari Siguntur, Kecamatan Sitiung, Dharmasraya, Sumatera Barat. Kita prioritaskan kawasan ini karena berdampingan dengan objek wisata alam “Gua Batu Kapur” dan objek wisata sejarah “Candi Padang Roco” di Sungai Lansat.

Ditambahkannya, secara bertahap kita akan kembangkan agro-wisata ke daerah Koto Padang dan Koto Baru, dengan ikon “duku-nya”. Untuk itu, harus tersedia kebun duku yang memiliki luas minimal 1 hektar, yang dilengkapi dengan kios-kios pedagang dan rest area bagi pengunjung, ungkapnya.

*MTh**

Berbasis Audio